Our social:

Kamis, 01 September 2016

KEREN. Seperti di UK, di Jogja juga ada Non-Uniform Day. Siswa-siswi Bersekolah pakai Blangkon-Surjan-Jarik atau Kebaya-Jarik


Seperti di UK, ternyata di Jogja juga ada Non school-uniform day. Bedanya adalah bukan pakaian bebas sebenarnya, melainkan siswa-siswi diwajibkan memakai pakaian khas adat Jogja, yaitu blangkon, surjan jenis Jawi Gagrag, kain batik atau jarik serta alas kaki untuk laki-laki dan kebaya plus jarik untuk perempuan.



Sewaktu tinggal di England UK, Adel dan Abram sangat bersemangat menunggu saatnya non school-uniform day alias waktunya bersekolah dengan hanya mengenakan baju bebas (bukan seragam). Biasanya ada tema kostum tertentu yang sekolah tentukan seperti misalnya memakai baju tidur, kostum super hero, baju polka dot (bulatan2), baju Halloween, atau baju bebas kreasi mereka sendiri. Dalam 1 tahun akademik, bisa 5-7 kali, sekolah di UK mengadakan non school-uniform day.


Yang menarik, sewaktu non-uniform day, sekolah akan mewajibkan siswa-siswinya untuk membawa uang (tidak banyak sih) antara 50p - £1 atau sekitar Rp 8 ribu -17 ribu (nilai kurs sekarang), dan uang tersebut akan dikumpulkan untuk disumbangkan ke panti asuhan, organisasi yang membantu kaum difabel atau yayasan kanker.
Jadi boleh dikatakan, sebenarnya secara tidak langsung anak-anak di sana sudah diajarkan untuk berderma, bergabung kegiatan amal/sosial atau charity.


Lain di UK lain pula di Daerah Istimewa Yogyakarta atau yang sering disebut Jogja. Setiap hari Kamis Pahing, siswa-siswi dan guru-guru di Jogja diwajibkan mengenakan pakaian khas adat Jogja. Setiap hari Kamis pahing itu berarti aturan tersebut dilaksanakan setiap 35 hari sekali, sesuai penanggalan/kalender Jawa.

Kalau tanggal 31 Agustus adalah tanggal yg spesial bagi warga Jogja, karena tanggal tersebut diperingati sebagai hari ditetapkannya Keistimewaan Yogyakarta.

“Dinten meniko sedanten siswa-siswi, guru, lan pegawai wonten pemerintah provinsi D.I. Yogyakarta ngagem busono Jawi Gagrag Ngayogyakarta. Amargi dinten meniko surya kaping 31 wulan Agustus sesarengan kaliyan dinten dipun syah aken Keistimewaan Yogyakarta. Monggo kita sedanten nguri-nguri kabudayan Yogyakarta,”

Di hari Kamis Pahing pertama di sekolah (sejak pulang dari UK), Fawwaz terpaksa mendapat hukuman ringan karena dia tidak mengetahui kalau harus mengenakan surjan, blangkon dan jarik setiap hari Kakis Pahing. Pada waktu itu, dia datang ke sekolah hanya mengenakan seragam hari Kamis yg biasanya. 
Bude-nya, bude Nuning, langsung menyiapkan semuanya (surjan, blangkon dan jarik) untuk kamis pahing berikutnya, semuanya langsung dibeli dari Pasar Beringharjo Jogja, mungkin sebagai 'tanda rasa bersalah' karena tidak mengingatkan kalau di Jogja ada aturan seperti itu setiap hari Kamis Pahing. 
Ah, tentu saja kami tidak tahu. Bulan Februari kami baru saja pulang dari UK, mengurus perpindahan dan administrasi sekolah anak-anak di Jogja, menyiapkan adaptasi anak-anak: mulai dari bahasa, kebiasaan, budaya dan sebagainya.
Anyway, many thanks Bude Nuning!
Harapan saya sih, semoga kegiatan ini bisa dihubungkan dengan kegiatan amal/sumbangan seperti di Inggris. Sebagai contoh, misalkan saja setiap murid diminta untuk membawa Rp 1.000, maka satu sekolah dengan 300 siswa sudah bisa menyumbangkan Rp 300.000. Kemudian kalau ada 100 ribu siswa saja di seluruh Jogja, maka bisa terkumpul 100 juta dalam satu hari.

Bayangkan bersekolah, di kelas dan kegiatan di luar kelas, semuanya pakai blangkon, surjan, dan jarik, serta selop trus sambil mengumpulkan uang sumbangan juga. Menariik ya !

0 komentar:

Posting Komentar