Sudah Saatnya, Belajar Memberikan REWARD pada Siswa Didik

Masih ingat beberapa waktu yang lalu ada kejadian yang menceritakan seorang Kakak yg memposting foto hasil PR matematika adiknya, dan foto ini menjadi viral di internet. Banyak pro dan kontra yang mengomentari cara 'sang adik menyelesaikan persoalan matematika' yg terdapat dalam foto itu. Mereka kebanyakan hanya terpaku pada benar atau salah-nya saja
Karena anggota DPR pun ikut bicara tentang postingan seorang mahasiswa yang mengupload PR Matematika adiknya yang duduk di kelas 2 SD, maka baiklah saya juga ingin ikut rembug opini saya. Saya tidak akan menyalahkan si guru yang memberikan nilai 20 pada PR tersebut (karena hanya 2 jawaban saja yang benar), juga tidak menyalahkan si kakak yang mengajarkan si adik sehingga mendapat nilai tersebut.
Tetapi saya lebih melihat pada system pembelajaran yang sudah digunakan oleh guru tersebut. Sebelum ke point ini, kayanya ada baiknya saya mengulas dulu sedikit tentang materi yang dipersoalkjan si mahasiswa tersebut, yang sedang heboh di dunia maya saat ini.


Kebeneran dari PR Matematika tersebut adalah Relatif
Jika ditanyakan apakah 4 x 6 = 6 x 4 ? , maka sebaiknya kita kembalikan ke definisi awal dari perkalian itu sendiri. Karena, jika menurut ilmu aljabar, jelas jawaban dari pertanyaan diatas adalah tidak sama. Tergantung dari definisi operasi “x” itu sendiri. Kalau anda bingung dengan keterangan saya ini, baiklah saya beri contoh sedikit. Saya mempunyai definisi operasi “x” sebagai berikut :

4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6. Maka bagaimanakah hasil dari 5 x 7 ? Maka tentu jawabannya adalah :
5 x 7 = 7 + 7 + 7 + 7 + 7. Jika anda menjawab 5 x 7 = 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5, maka tentulah jawaban anda salah terlepas dari hasil penjumlahan ini. Lalu, apakah 4 ‘x’ 6 = 6 ‘x’ 4. Jika kita mendefinisikan perkalian sebagai berikut :

4 ‘x’ 6 = 4 – 6, yang menghasilkan nilai -2. Sehingga 6 ‘x’ 4 = 6 – 4, dan hasilnya adalah 2. Hasil ini mengatakan bahwa 4 ‘x’ 6 ≠ 6 ‘x’ 4 .

Dalam hal ini, “x” hanyalah simbol dari suatu operasi, dan disebut sebagai operasi “perkalian”. Anda bisa saja mengganti simbol tersebut dengan “*” dan menamainya dengan operasi “bintang” dengan definisi yang sama dengan operasi perkalian diatas.
Maaf jika penjelasan ini membuat anda semakin bingung. Karena jika sudah menyangkut operasi dalam dunia Aljabar, hal hal seperti ini adalah hal yang mendasar yang harus dipahami terlebih dahulu.


Sekarang , bagaimana dengan kasus PR anak SD diatas. Karena untuk anak anak SD belum belajar mengenai konsep Aljabar seperti penjelasan saya diatas, maka sangat tidak mungkin si guru mengajarkan konsep operasi secara umum. Yang sangat logis adalah bahwa si guru sudah mengajarkan prinsip perkalian yang sudah umum berlaku dalam dunia Matematika SD, yaitu bahwa perkalian adalah penjumlahan yang berulang. Jadi, a x b sama dengan b dijumlahkan sebanyak a kali. Sebagai contoh,

3 x 2 = 2 + 2 + 2 (yaitu, menjumlahkan 2 sebanyak 3 kali), dan tentu saja
2 x 3 = 3 + 3 (yaitu, menjumlahkan 3 sebanyak 2 kali).

Kalau ingin lebih nyata bagaimana prinsip perkalian tersebut bisa di nalar oleh anak anak SD, sebaiknya menggunakan alat peraga didalam kelas. Hal ini seperti yang dialami oleh anak saya sendiri, yang saat ini sudah duduk di kelas 4, di suatu public school di kota Colchester, Inggris. . Adel (panggilan nick name nya) sudah belajar prinsip perkalian sejak dia duduk di kelas 2 SD. Pada suatu event, guru kelasnya mengundang para orangtua untuk melihat secara langsung system pembelajaran yang diterapkan kelas nya tersebut. Maka datanglah saya kesekolah tersebut dan memperhatikan bagaimana anak anak dikelasnya sudah pandai menggunakan alat peraga berupa pion pion kecil dalah suatu papan. Sayang sekali dokumentasinya saat ini tidak bisa saya upload disini. Jadi pada prinsipnya, mereka mengelompokkan beberapa pion sesuai dengan soal yang diberikan oleh guru mereka. MiIsalkan, untuk persoalan 3 x 2, anak anak membuat 3 grup yang terdiri dari masing masing 2 pion, kemudian menjumlkan pion pion tersebut. Pada stage seusia anak saya saat itu, mereka baru sebatas diberi konsep dasar perkalian dan pembagian, belum masuk ke tahap perhitungan yang rumit, seperti PR anak yang lagi heboh dibicarakan di medsos tersebut.
Dan memang terbukti, ketikan Adel masuk kelas 3 (Junior school, istilahnya), barulah dia diberikan banyak perhitungan yang menyangkut perkalian dan pembagian. Kalau saya lihat kurikulum di Inggris, hal ini pun berlaku diseluruh sekolah di Inggris (maaf kalau salah).



Menggunakan alat peraga dalam kelas sangat efektif untuk memahami konsep matematika yang sulit dinalar oleh anak anak SD. Guru dalam hal ini dituntut lebih kreatif dalam mencari metode yang mudah dimengerti oleh si anak. Kalau saya melihat kasus ini, jelas sekali si anak belum paham tentang konsep perkalian, sehingga dia berkonsultasi dengan si kakak. Kalau sianak paham, paling tidak, dia agak sedikit ngeyel ke kakak bahwa cara si kakak tidak sesuai dengan yang diajarkan si guru.
Kalau saya melihat sisi pandang si kakak, mengapa dia mengajarkan prinsip perkalian seperti itu, saya setuju dengan pendapat salah satu dosen di University of Essex, Dr. Hadi Susanto, yang menyatakan bahwa si kakak menggunakan bahasa jawa dalam mengartikan perkalian tersebut, yaitu bahwa (4 x 6) artinya “papate ping enem”. Jadi kita tidak bisa menyalahkan si kakak juga. Mungkin sedikit mengkritisi si kakak, bahwa dia tidak melihat buku teks si adik, dia hanya memegang prinsip bahwa perkalian bersifat komutatif, yaitu 4 x 6 = 6 x 4. Padahal anak SD belum diajarkan konsep komutatif tersebut.

Belajar Memberikan REWARD pada siswa 
Kembali ke point dari tulisan saya ini. Jujur saya katakan bahwa saya berterimakasih pada si mahasiswa tersebut yang telah memposting hasil PR adiknya. Karena saya berpikir bahwa setidaknya saat ini banyak pakar dan panggota parlemen melihat langsung permasalahan riil dari pendidikan di Indonesia.
Pertama, guru belum (maaf kalau sudah) diberikan training bagaimana memberikan penilaian terhadap suatu pekerjaan siswa. Contoh kasus ini adalah, bahwa secara jelas guru hanya memberikan nilai 20 point (dari 100 point mestinya). Terbayangkah anda apa yang dirasakan oleh si anak tadi yang mendapat hanya sekian point. Manakah pernghargaan dari usaha si anak tersebut ? Kalau memang point atau skor adalah harga yang harus diberikan oleh suatu pekerjaan siswa, apakah tidak sebaiknya si guru menuliskan kata kata yang membuat anak tersebut tidak galau. Misalkan, “Semua jawaban PR mu benar, hanya langkahnya perlu diperbaiki”. Di sekolah anak saya, setiap pekerjaan anak saya selalu ada komen dari guru nya, seperti “Well Done, Adel”, “Good effort”, “Nice try”, kalau banyak salah dalam pekerjaannya. Kadang juga menuliskan agak panjang, “Good job, Adel, but you forgot ...bla bla bla...”.


Saya melihat penghargaan seorang guru terhadap siswanya kurang sekali di sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Bisa dipahami, jumlah siswa dalam satu kelas di SD negeri di Indonesia juga berlebih (rata rata 30-40 siswa dalam satu kelas). Dapat dibayangkan jika seorang guru harus memberi komen pada setiap lembar kerja siswa. Belum lagi, harus mengajar beberapa mata pelajaran. Tapi , disitulah tantangan seorang guru, bisa membuat anak didiknya selalu nyaman di dalam kelas, membuat mereka selalu semangat belajar dalam kelas, dan membuat anak-anak merasa dihargai dengan semua pekerjaannya.


Kedua, adalah bahwa pembuat kurikulum harus melihat lagi dan mengevaluasi lagi tahap kesulitan dari setiap mata pelajaran. Dalam kasus ini, setidaknya saya melihta bahwa anak SD kelas 2 sudah mendapat persoalan hitung hitungan yang agak rumit. Semestinya baru mereka dapatkan setelah cara berpikir mereka sudah lebih baik. Menurut saya, pada anak anak usia 4 – 7 tahun, pola pikir mereka masih belum teratur seperti anak anak berumur di atasnya. Walaupun itu tidak berlaku untuk semua anak, tapi rata rata seperti itu. Anak anak dapat berpikir secara serius setelah menginjak usia 7 tahun keatas.
Maka saya dapat memahami mengapa sekolah sekolah di Inggris dikelompokkan menjadi, Infant School dan Junior School. Infant school terdiri dari kelas reception, kelas 1 , dan kelas 2, dengan usia 4 – 7 tahun, sedangkan junior school adalah untuk anak anak berumur 7 – 11 tahun, yang masuk didalam kelas 3 , 4, 5 dan 6. Di Infant school, anak anak belajar sambil bermain. Ditiap kelas pun disediakan berbagai permainan edukatif. Anak anak reception dan kelas 1, tiap pagi (sebelum kelas dimulai) boleh bermain didalam kelasnya dan menggunakan alat alat permainan yang disediakan tersebut. Di kelas 2 pun sebenarnya disediakan alat alat permainan, tapi aturannya sedikit berbeda. Anak anak dikelas 2 sudah mulai diajarkan sedikit lebih disiplin, hanya bermain saat break time.
Previous
Next Post »