3 Life-skill yg utama bagi Anak-anak di UK : Mengantri, Minta Maaf, dan Berterima kasih

Ada semacam anekdot bagi orang asing yang baru saja datang di UK, yaitu apa yang harus mereka lakukan pertama kali : "Belajarlah mengantri dulu". 

Ya memang benar, budaya mengantri (dengan tertib) sangat terkenal di UK: mengantri di ATM/bank, mengantri mau naik bis (tidak main serobot saja), mengantri di toko/supermarket, mengantri tiket atau mengantri untuk hal apapun.

budaya antri dgn tertib sejak kecil

Sampai-sampai mengantri dengan tertib juga diterapkan di jalan raya, disaat kondisi macet misalnya mereka tetap sabar menunggu giliran kendaraan mereka bisa jalan (seperti mengantri) tidak asal main serobot dari kiri atau kanan asalkan bisa berjalan duluan.





Ternyata, budaya mengantri ini memang sudah diajarkan sejak dini, termasuk juga budaya minta-maaf dan berterima kasih. Anak-anak saya (umur 6, 10, dan 14 tahun) sudah paham dan terbiasa dengan budaya tersebut karena mereka memang bersekolah di UK sejak kecil, sehingga mereka menjadi sangat heran ketika datang/pulang ke Indonesia dan mau beli sesuatu misalnya, mereka heran kok sangat semrawut, tidak ada antrian, semua maunya minta dilayani duluan. 

Mereka jadi lebih heran lagi, ketika di jalan raya dan sedang macet, banyak yang main serobot dari kiri atau kanan. yang tadinya jalan dengan 2 jalur, bisa menjadi 4 jalur. Belum lagi di persimpangan jalan dgn traffic light, lampu belum menyala hijau tapi orang-orang sudah jalan.

belajar bilang maaf
In Britain there are few things as important to our national identity as knowing how to queue. Despite what it seems to foreigners, British people are not born with this ability but must learn it. So from a very early age, childminders should teach queueing skills to youngsters. Have you ever watched what happens when somebody pushes in a queue? There have been moments where I have found myself concerned if the reckless rebel is going to make it out of the shop alive! Don’t let any of the children you look after grow up so uncivilised! Remember, that when we encourage small children to learn to form orderly queues, they are learning to uphold the very fabric that binds our nation together.



belajar berterima kasih
Bagaimana dengan mengajarkan "minta maaf" ?
Jujur, ketika pertama datang ke UK, saya merasa heran ketika ada beberapa orang di sekitar saya yang bilang 'Sorry', misalkan saja ketika sedang berjalan kaki lalu berpapasan dan tidak sengaja hampir bersenggolan, mereka buru-buru bilang sorry. Atau kadang saya perhatikan di lain kesempatan, misalkan tangan mereka tidak sengaja hampir menutupi pandangan kita mereka bilang maaf. 

Namun, lama-lama saya menyadari bahwa bilang 'sorry' itu adalah budaya mereka yang sudah diajarkan sejak dini, mulai dari sebelum usia pre-school.  Orang-orang tua di sana, baik tetangga ataupun orang lain yang duduk sebelahan di bis misalnya, bercerita menanamkan budaya minta maaf itu tidak bisa instan. Kami dulu, juga tidak sebaik sekarang, semuanya perlu proses dan waktu, hanya saja para pejabat dan parlemen membuat peraturan, merancang skema pendidikan yang baik. Mereka memikirkan masa depan generasi yang akan mereka tinggalkan.


British people are always apologising, even if it isn’t your fault. For example if another childminder bumps into you, or rams you with their push chair, it is considered perfectly normal for you to mutter ‘sorry’ to them. Hold practice sessions during soft play where you encourage the children to bump into each other and everyone saying ‘sorry’ so that they will learn how to master this skill.
Budaya terima kasih juga sudah diajarkan di Britain sejak usia dini. Sekecil apapun yang dilakukan orang lain untuk kita, maka kita patut berterima kasih. Itulah yang sudah menjadi budaya orang-orang di Negeri Ratu Elizabeth itu sejak kecil. Jujur, ketika hari-hari pertama tinggal di Inggris, saya sempat berpikir 'kayak gitu aja bilang terima kasih' hehe. Misalnya begini, ketika berpapasan tiba-tiba saya berhenti, maka orang yang berpapasan tadi akan bilang Thank you. Tapi lama-lama saya jadi tahu bahwa hal itu sudah menjadi budaya di sana.

Mungkin kelihatannya hal sepele bagi kita, tetapi ternyata tidak hanya sampai di ucapan terima kasih saja. Orang-orang di sana seakan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan bagi orang lain sehingga mendapat ucapan terima kasih. Contohnya: orang akan membukakan pintu dan menahannya bagi orang-orang di belakangya, atau orang muda akan mendahulukan orang-orang tua atau yang bawa anak kecil untuk maju duluan di antrian.


Ternyata, ketiga pelajaran penting sejak dini (Mengantri, Minta Maaf, dan Berterima kasih) itu bermuara pada kata 'RESPECT'. Ya, respek = menghargai, baik menghargai orang lain maupun menghargai diri sendiri. Karena kalau melakukan hal-hal tersebut, kita sudah menghargai diri sendiri, menunjukan ke orang lain bahwa ternyata kita adalah orang yang berbudaya, punya karakter kuat.

Giving the good example is very important and is sufficient at this stage of development.




Previous
Next Post »